Cerita Misteri Jimat Kematian

Jimat Kematian

“Misteri Kamar 22”

Andi dan Joni adalah dua orang yang baru tinggal di kostan Ibu Ani. Mereka berdua kuliah di salah satu universitas yang ada di kota itu. Andi dan Joni ditempatkan dikamar 22 yang sudah lama kosong karena kamar tersebut penuh dengan misteri. Andi dan Joni tidak mengetahui tentang misteri yang ada pada kamar 22. Ibu Ani memilihkan tempat tersebut karena dari 30 kamar kostan semuanya telah terisi kecuali kamar 22. Ibu Ani tidak menceritakan hal-hal yang aneh yang pernah ia alami.

Malam pertama mereka ngekost di kostan Bu Ani, mereka sudah merasakan hal yang aneh, kejadian yang tidak masuk akal. Pada awalnya Andi dan Joni tidak merasakan ketakutan dan biasa saja. Tapi semakin malam kejadian aneh dan suara-suara aneh mulai terdengar. Suara teriakan anak kecil yang minta tolong, suara tangisan yang membuat mereka semakin ketakutan.

Pukul tiga malam, Andi dan Joni tidak bisa memejamkan mata dan gelisah karena mereka mendengar dan selalu di takuti oleh suara yang aneh. Joni memberanikan diri untuk keluar dari kamar dan meninggalkan Andi sendirian di kamar mereka. Dengan langkah yang perlahan dan lirikan matanya kekiri kekakan, jantungnya berdetak kencang dan bercucuran keringat. Tiba-tiba ia di kejutkan suara barang yang jatuh di dapur kostan mereka. Joni mengajak Andi untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dapur tersebut.

Ketika mereka Menuju dapur, terdengar suara tangisan didalam kamar mandi, Joni terkejut dan lari meninggalkan Andi keluar kamar. Andi mengikuti Joni, namun saat Andi ingin keluar dari kamar itu, dengan tiba-tiba pintu tertutup dan terkunci. Andi membuka jendala, tapi tidak bisa. Tiba-tiba listrik padam, suasana didalam kamar gelap, suara tangisan itu semakin mendekati Andi. Joni berusaha membuka pintu dan berusaha menyelamatkan Andi yang terjebak dalam kamar. Andi berteriak kencang minta tolong, Joni terus mendorong pintu agar bisa terbuka.

Andi teringat bahwa mereka memiliki kunci pintu, tapi kunci tersebut ada didalam tasnya. Ia memberikan diri mengambil kunci didalam tasnya. Dengan penuh kegelapan, Andi dengan perlahan meraba tasnya dan disaat ia mengangkat yang ia dapatkan, ternyata ia mengangkat sepenggal kepala dengan rambut yang panjang, ia melapaskan dan berlari ke arah pintu. Tiba-tiba pintunya terbuka, mereka berdua berlari keluar dan meninggalkan kostan tersebut.

Pukul lima pagi mereka sudah berada di masjid dan dibagunkan oleh seorang Ustad dan menyuruh mereka melaksanakan shalat subuh. Andi dan Joni pun langsung mengambil wudhu dan shalat berjamaah dengan Ustad tersebut. Setelah selesai, Andi dan Joni menceritakan apa yang mereka alami. Setelah mendapat nasehat dari Ustad tersebut, mereka pergi dan meninggalkan kota tersebut.

“Perempuan Misterius”

Hari Sabtu, 22 Maret 2009, Andi dan Joni diterima bekerja disebuah bengkel yang terkenal dan sudah memiliki pelanggan. Bengkel tersebut buka 24 jam. Andi dan Joni bekerja pada ship malam karena siangnya mereka harus kuliah. Andi dan Joni sebelumnya memang sudah memiliki pengalaman yang sudah matang dalam hal pekerjaan yang mereka jalani sekarang.

Hari kelima mereka bekerja di bengkel itu, sekitar pukul setengah satu malam, Andi masih mengerjakan dan memperbaiki motor seorang perempuan. Sedangkan Joni sudah mau selesai. Beberapa menit kemudian angin berhembus kencang, suara gemuruh dan petir menyambar, hujan turun sangat deras. Motor perempuan tersebut sudah selesai di perbaiki Andi, seharusnya motor tersebut sudah bisa di gunakan lagi, karena hujan, seorang perempuan itu numpang berteduh di bengkel tersebut.

Andi dan Joni beristirahat sebentar, mereka memperhatikan perempuan yang duduk di kursi samping dekat motornya. Andi dan Joni heran dengan perempuan itu mengapa sejak pertama datang ta sepatah katapun yang ia ucapkan. Dengan penuh rasa penasaran, Andi pun mendekati perempuan itu dan bertanya kepada perempuan itu mengapa ia dari tadi hanya terdiam.

Tapi, perempuan itu tetap tak menjawab pertanyaan Andi. Joni pun ikut mendekatai perempuan itu dan mengajak berbicaram, namun perempuan itu tetap tidak menjawab. Hujan pun berhenti, tapi perempuan itu tetap duduk di kursi dan tidak mau pergi meninggalkan bengkel itu. Mukanya terlihat pucat, Andi memberikan obat kepada perempuan itu dan menyuruh untuk meminumnya. Saat Andi memberikan obat tersebut, perempuan itu berteriak kencang dan wajahnya berubah menjadi rata. Kukunya menjadi panjang.

Andi terkejut dan langsung berlari kearah Joni. Perempuan itu berdiri dan pergi kearah Andi dan Joni. Dengan rasa ketakutan Andi mengambil obeng besar dan melemparkan kea rah perempuan itu. Joni pun mengambil Palu dan melemparkanya ke arah perempuan itu. Tapi perempuan malah menghilang dan muncul di belakang Andi dan Joni. Ia tertawa dengan sangat kencang, Andi dan Joni lari dan minta pertolongan ke salah seorang yang merupakan security bengkel itu.

Mereka bertiga melihat ke bengkel, namun perempuan misterius itu telah hilang dan motornya berubah menjadi keranda yang didalamnya ada kerangka-kerangka yang sangat menyeramkan. Andi dan Joni langsung menutup bengkel mereka dan pulang kekostan mereka. Andi dan Joni ternyata diikuti dari belakang, Perempuan misterius itu kembali menauti Andi dan Joni. Andi dan Joni dengan cepat masuk kedalam kostan mereka dan mengunci rapat pintu kostan mereka.

Walaupun dengan rasa ketakutan, namun mereka berdua bisa memejamkan mata dan tertidur nyenyak. Paginya mereka terbangun, Andi dan Joni langsung berangkat kuliah dan menceritakan kejadian aneh yang mereka alami semalam kepada teman-teman mereka. Temen-teman mereka malah tertawa mendengarkan cerita Andi dan Joni.

“Lantai 3”

23 Maret 2009, di Kampus kuliah Andi dan Joni. Dosen menerangkan pelajaran yang kurang di mengerti oleh Andi dan Joni. Mereka pun kelihatannya kurang menyukai pelajaran tersebut, selain pelajaran susah dimengerti, dosennya juga terlalu keras dan pelit dalam penilaian. Andi dan Joni sering tidak masuk mata kuliah itu, tapi karena hari ini mereka ada ujian, dengan terpaksa Andi dan Joni masuk kelas dalam mata kuliah itu.

Pukul 4 sore, Ujian pun selesai. Tapi tiba-tiba salah seorang mahasiswi mengamuk kesurupan dan berterik seperti orang gila dan meminta makanan yang tak seharusnya dimakan oleh manusia. Ia meminta seekor anak ayam yang haus disediakan oleh siapa saja yang ada dalam kelas tersebut. Para mahasiswa dan mahasiswi tidak menuruti keinginan mahasisei yang kesurupan itu. Tiba-tiba 5 mahasiswi lainnya ikut kesurupan dan membuang meja dan kursi.

Dosen dan mahasiswa lainnya membantu mahasiswi yang kesurupan. Mahasiswa lainnya naik kelantai 3 untuk menyaksikan kesurupan masanl itu yang sebelumnya tidak pernah terjadi pada kampus itu. Semua dosen naik ke lantai 3 dan berusaha untuk menenangkan mahasiswi yang kesurupan. Andi memegang tangan salah satu mahasiswi yang kesurupan, Joni memegang kaki dan yang lainnya membantu dan menenengkan mahasiswi lainnya yang kesurupan juga.

Tiba-tiba terdiam, semua mahasiswai yang kesurupan pingsan. Andi dan Joni melapaskan pegangan mereka. Andi dan Joni mengira semuanya sudah selesai, tapi ternyata Andi, Joni dan yang lainnya kembali di kejutkan dengan mengamuknya kembali mahasiswi yang kesurupan. Kemudian diam lagi, dan yang kesurupan pun diangkat ke lantai 1. Terakhir, Andi, Joni dan teman mereka yang bernama Andini tinggal di lantai 3. Semua orang sudah turun kelantai 1.

Saat mereka bertiga turun dari lantai 3, Andini pingsan dan terjatuh kelantai. Andi dan Joni mengangkat Andini. Ketika di depan kelas lantai 3, Andini mengamuk dan berteriak kencang, memecahkan kaca jendela dan mencekik Joni. Andi minta tolong dan berusaha melepaskan cekikan Andini. Joni minta tolong dan berusaha melepaskan tangan Andini dari lehernya. Andi memukul kepala Andini dengan kursi karena Andi sudah panik dengan keadaan itu.

Andini tergeletak dilantai, kepalanya berdarah. Dosen yang mendengar teriakan Andi dan Joni akhirnya naik ke lantai 3. Dosen melihat Andini sudah tergelatak di lantai. Andi dan Joni menjelaskan semua kejadian yang mereka alami kepada dosen. Leher Joni terlihat merah keungu-unguan karena cekikan Andini yang kesurupan. Andi bertanggung jawab atas perbuatannya. Ia Dibawa kekantor polisi dan di tahan selama 1 tahun. Ia tidak dinyatakan salah sepenuhnya karena dia tidak dengan sengaja dan dia hanya ingin menyelamatkan nyawa Joni.

Andi pun masuk penjara dan Joni masuk kerumah sakit akibat cekikkan Andini yang membuat leher Joni susah untuk bergerak. Sedangkan Andini disemayamkan hari itu juga. Keluarganya sangat sedih, Orangtua dan Adiknya yang bernama Irfan sangat kehilangan Andini.

“Keanehan didalam Sel”

25 Maret 2012, didalam sel yang tidak berpenghuni dan hanya Andi lah didalam sel tersebut. Akibat perbuatannya ia harus mendekam didalam sel selama setahun dan meninggalkan teman setianya yang selalu bersamanya, namun malam ini ia sendirian tanpa Joni. Ia selalu terbayang wajah Andini, ia selalu terbayang akan kesalahannya yang pernah ia buat.

Menangis dalam sujudnya, Andi menyesali kesalahannya dan perbuatannya. Ia tak bisa memejamkan matanya, gelisah mondar mandir dan tidak bisa diam. Penjaga sel mengatarkan makanan padanya. Andi bertanya apakah dia memang sendiri di sel tersebut atau ada yang lain menemaninya, tapi penjaga itu tidak menjawab. Setelah ia mengantar makanan, penjaga itu langsung pergi ketempatnya lagi.

Andi pun dengan lahap, karena seharian dia tidak makan, hanya diberi minum oleh penjaga. Suapan ketiganya, ia mendengar suara desahan di tembok didekatnya. Ia tetap bersikap santai dan tidak terlalu memperdulikannya, ia terus makan. Suara aneh kembali terdengar, kali ini ia mendengar suara anak bayi yang menangis dan suara anak kecil berteriak kelaparan meminta agar dikasih makan.

Andi tetap tidak memperdulikannya, ia tetap menyuap makanannya. Tiba-tiba lehernya belakangnya terasa dingin. Andi terdiam seketika, jantungnya bedetak kencang, dengan perlahan ia melihat ke belakang tapi tidak ada apa-apa yang ia lihat. Tiba-tiba andi mencium bau busuk yang sangat menyengat dan ia berhenti makan. Lehernya kembali dingin, ia mendengar suara teriakan perempuan yang mint tolong kesakitan dan mendengar suara tangisan anak kecil.

Andi menoleh kebelakang dan ia pun melihat sesosok perempuan yang berambut panjang, bermuka rata, berbaju putih dan matanya yang sangat menyeramkan. Andi minta tolong kepenjaga sel, tapi penjaga sel tidak mendengar. Andi berusaha lari,tapi sudah pasti tidak bisa karena ia didalam sel.Tiba –tiba kakinya diseret dan di cekik yang mengakibatkan ia mati seketika.

Paginya, jasad Andi disemayamkan di kuburan dekat kuburan Andini disemayamkan. Joni sangat bersedih atas kepergian sahabatnya, ia juga tidak bisa datang dalam pemakaman sahabatnya, karena ia masih dirawat dirumah sakit. Joni menangis dalam kesedihan, kehilangan sahabat terbaiknya. Entah mengapa Irfan, adik Andini merasa puas dengna kepergian Andi, mungkinkan Irfan dendam dengan Andi karena yang ia tahu Andilah yang mengakibatkan kakaknya meninggal dunia. Irfan tersenyum dan merasa bahgaia atas kepergian Andi.

“Keanehan di Rumah Sakit”

27 Maret 2009, Joni masih di rumah sakit, ia sebenanrnya sudah sembuh, akan tetapi ia belum boleh pulang. Sehari semalam lagi ia harus dirawat di rumah sakit itu. Joni tidak bersabar lagi menantikan hari esok, ia bisa mendatangi makam Andi sahabatnya, ia bisa kembali bekerja, ia bisa kuliah lagi walaupun tanpa Andi yang biasa menemaninya dan selalu ada kapanpun ia membutuhkan. Tapi sekarang Joni harus membiasakan diri dan menerima kenyataan bahwa Andi sudah tidak didunia lagi.

Malam itu, teman kampus Joni datang menjenguk Joni, ia adalah Hardi. Joni berbagi cerita banyak kepada Joni dan Hardi, atas apa yang pernah ia alami di kostan, di bengkel dan kampus lantai 3, banyak keanehan yang ia alami bersama Andi. Ternyata Hardi juga pernah mengalami itu di lantai 3 kampus mereka. Ketika ia duduk berdua dengan pacarnya Putri, mereka mendengar suara teriakkan dan tangisan yang sangat menyeramkan. Mereka turun dari lantai itu dan mereka menceritakan kepada teman-teman mereka yang lain da ternyata mahasiswa yang lain sudah pernah mengalami kejadian seperti itu.

Pukul 10 malam, Joni dan Hardi masih bercertia tentang pengalaman mereka atas kejadian aneh yang pernah mereka alami. Sedang asyik-asyiknya mereka bercerita, ada yang mengetuk pintu tiga kali. Hardi membuka pintu dan ia tidak melihat siapa-siapa. Hardi kembali menutup pintu, namun belum sempat ia melangkah terdengar lagi suara ketukkan pintu. Hardi tidak berani membuka pintu, ia mendekati Joni dan menyuruh Joni yang membuka pintu sedangkan ia duduk di kursi dengan rasa ketakutan. Dengan perlahan Joni membuka pintu dan melihat kiri kanan, namun tidak ada siapa-siapa yang ia lihat.

Joni pun keluar, penasaran apakah mereka dikerjain atau memang ada kejadian yang aneh lagi yang menimpanya lagi. Joni melihat jejak kaki ke arah kamar rumah sakit di seberangnya. Ia pun mengikuti karena rasa penasaran. Hardi menunggu Joni di kamar Joni dirawat, Hardi takut karena ia sendirian di kamar itu, ia pun keluar tapi saat dia membuka pintu, ternyata pintunya terkunci. Ia minta tolong kepada Joni agar dibukakan pintu tersebut. Sedangkan Joni terus melangkah mengikuti jejak kaki yang aneh itu.

Joni mendengar suara teriakkan Hardi yang minta tolong, ia dengan cepat kembai kearah kamarnya dan berusaha membuka pintu kamarnya. Didalam kamar, Hardi ketakutan mendengar suara tangisan anak kecil dari kamar mandi, semakin lama suara itu semakin terasa mendekati Hardi. Joni minta tolong kepada suster agar pintu dibukakan, ketika suster itu membuka pintu tersebut dengan mudah pintu terbuka dan Hardi keluar dengan sangat ketakutan. Suster heran melihat Hardi dan hanya tersenyum melihat tingakah Hardi. Suster itu pun pergi meninggalkan Joni dan Hardi.

Karena masih penasaran, Joni mengajak Hardi untuk melihat jejak kaki yang menurut dia suatu keanehan. Tapi jejak kaki itu tidak ada lagi, dengan sangat ketakutan Joni lari kearah kamarnya begitu juga dengan Joni. Hardi menceritakan tentang masalah jejak kaki yang ia lihat dan Hardi menceritakan suara-suara yang aneh didalam kamar mandi.

Akhirnya, malam itu Hardi menginap di rumah sakit. Paginya, Hardi di ijinkan untuk pulang, ia dijemput oleh perwakilan dosen dari kampusnya. Biaya pengobatannya sudah ditanggung keluarga Andini dan pihak kampus. Hari itu Joni sudah mulai beraktifitas, ia pergi kemakam Andi, ia sangat bersedih dan meneteskan air mata mengingat semua kenangan bersama Andi. Joni mulai bekerja di bengkelnya dan mulai masuk kampus.

Arwah Gentayangan Andini”

1 April 2009, Joni masuk kuliah malam karena ada mata kuliah tambahan. Sebelum ke kampus ia menemui Hardi dan Putri, mereka berangkat bareng kekampus. Sekitar pukul 8 malam perkuliahan sudah dimulai, tapi kenyataannya sudah lewat pukul 8 dosen belum datang juga. Banyak diantara mereka pulang tapi yang lain tetap menunggu dosen termasuk Joni, Hardi dan Putri.

Didalam kelas Hardi dan Putri malah memanfaatkan waktu untuk pacaran, begitu juga dengan mahasiswa yang lain, sedangkan Joni membuka laptonya dan ia lebih memilih belajar dan memahami mata kuliah yang belum ia mengerti. Beberapa menit kemudian, di lantai 3 terdengarlah suara pecahan kaca tapi saat mahasiswa lain melihat kea rah suara tidak ada kaca yang pecah. Terdengar lagi suara teriakan dari depan kelas, semua mahasiswa ketakutan dan keluar dari kelas. Mereka tidak melihat apapun didepan kelas.

Tiba-tiba Putri berteriak minta tolong karena ia merasa ada yang memegang kakinya. Semua mahasiswi ketakutan dan turun ke lantai 1. Hardi tidak melihat apa-apa dikaki Putri, namun Putri merasa seakan ada yang manarik kakinya. Joni melihat sesosok perempuan di sudut depan kelas dengan kepala yang penuh darah. Hardi dann Putri juga melihat dan ketakutan.

Putri tidak bisa melangkahkan kakinya, Hardi terus berusaha manarik Putri agar turun dari lantai itu, Joni ikut membantu. Putri menagis ketakutan dan sesosok perempuan itu semakin mendekati mereka. Joni melihat kebelakangnya, ia seperti mengenal seseosok perempuan tersebut, tanpa rasa takut lagi ia memperhatikan perempuan itu dan ternyata itu adalah arwah gentayangan Andini yang pernah mencekiknya karena kesurupan dan Andi memukul kepalanya hingga menyebabkan Andini meninggak dunia.

Joni meminta maaf, berteriak kencang tanpa ada rasa ketakutan lagi. Joni memninta agar Arwah Andini memaafkan Sahabatnya Andi dan jangan menganggu lagi mahasiswa lainnya. Joni juga meminta maaf atas perilaku Hardi dan Putri yang tak sewajarnya mereka pacaran didalam kelas. Semakin lama, Arwah Andini menjauh dan menghilang. Putri jatuh pingsan, Joni dan Hardi mengangkat dan membawa Putri ke ruang dosen.

Setelah beberapa menit kemudian Putri sadar dan langsung menangis memeluk Hardi. Joni, Hardi dan Putripun langsung pulang dari kampus karena malam perkuliahan di batalkan dosen yang bersangkutan. Joni dan Hardi mengantar Putri kerumahnya, Joni langsung ketempat kerjanya diantar oleh Hardi.

“Pocong di Kamar Irfan”

2 April 2009, Joni megajak Hardi kerumah Irfan untuk bersilaturahmi karena Joni baru mengatahui bahwa keluarga Irfanlah yang membiaya perawatannya dirumah sakit. Sekitar pukul 7 malam, Joni dan Hardi datang kerumah Irfan. Disana Joni dan Hardi bertemu dengan keluarga Irfan, Joni mengucapkan banyak terimakasih kepada orangtua Irfan yang telah membiayai perawatannya diwaktu di rumah sakit.

Hardi ijin kekamar mandi, sedangkan Joni banyak bercerita tentang keluarganya dan pengalamannya kepada orangtua Irfan. Hardi menuju kekamar mandi, dalam kamar mandi ia teringat kejadian yang kemaren ia alami dikampus, ia terus terbayang. Hardi ketakutan dan dengan cepat ia keluar dari kamar mandi. Saat ia keluar terdengar suara teriakan minta tolong didalam kamar Irfan. Hardi langsung kekamar Irfan begitu juga orangtua Irfan. Joni ikut melihat apa yang sebenarnya terjadi didalam kamar Irfan.

Mereka pun melihat Irfan tergelatek di lantai, Joni dan Hardi membantu mengangkat Irfan ke atas kasur. Orangtua Irfan langsung menelepon dokter pribadi mereka untuk memeriksa Irfan. Tidak lama kemudian dokter tersebut datang dan langsung memeriksa Irfan, ternyata Irfan hanya kelelahan. Irfan pun sadar, dan kembali ia berteriak minta tolong dengan sangat kencang. Joni dan Hardi memegang tangan Irfan dan berusaha untuk menyadarkan Irfan.

Irfan berteriak dengan kencang bahwa ia melihat pocong di depan lemarinya. Irfan terus berteriak kencang dan melepaskan pegangan Joni dan Hardi, irfan tanpa sadar melemparkan hendphonenya kea rah depan lemari. Padahal orangtua Irfan,Joni, Hardi dan Dokter tidak melihat apa-apa didepan lemari. Irfan memukuli dirinya sendiri. Ayah Irfan pun memanggil seorang Ustad yang merupakan tetangganya sendiri. Irfan menjatuhkan lemarinya dan menghancurkan tv yang ada didalam kamarnya, Joni dan Hardi berusaha menenangkan irfan namun malah Hardi yang terkena lemparan Gitar yang dilemparan oleh Irfan.

Tangan Hardi berdarah, Joni dan Dokter terus memegangi hingga Ayah Irfan dan Ustad datang, Ibu Irfan hanya menangis melihat anaknya seperti itu. Tidak lama kemudian Ayah Irfan dan Ustad datang, Ustad langsung menenangkan dan membacakan doa. Irfan pun sadar dan heran melihat banyak orang didalam kamarnya. Ibu Irfan langsung memeluk Irfan dan menangis karena Ibu Irfan takut kehilangan Irfan. Ustad menjelaskan kepada orangtua Irfan, Joni dan juga Hardi bahwa didalam kamar Irfan ada penghuni yang sudah lama mengikuti Irfan dari kecil. Sesosok pocong yang bermuka rata, serta ada anak kecil yang berada dikamar mandi, sedangkan diruang tengah ada sesosok perempuan yang selalu menganggu para tamu yang datang. Ustad menyarankan agar orangtua Irfan dan Irfan sendiri harus sering beribadah agar rumah mereka bersih dan tidak dihuni oleh makhluk-makhluk gaib.

Setelah beberapa menit kemudian Ustad itu pamit pulang, begitu juga dengan Joni dan Hardi. Orangtua Irfan sangat berterimakasih kepada Ustad tersebut dan kepada Joni dan Hardi yang sudah berusaha menenangkan anaknya. Irfan juga berterimakasih kepada Ustad tersebut dan kepada Joni dan Hardi, Irfan juga meminta maaf kepada Hardi karena dia tangan Hardi jadi terluka. Hardi dan Joni pun pamit pulang. Bertambah lagi kejadian aneh yang di alami Joni dan Hardi, mereka semakin heran apayang sebenarnya terjadi pada mereka mengapa disetiap waktu mereka mengalami hal yang aneh terutama Joni. Tapi meraka santai saja dan tidak terlalu mempermasalahkan itu, dalam

“Teriakkan Kuntilanak”

5 April 2009, Malam yang tidak seperti malam sebelumnya, hujan turun begitu deras diiringi dengan suara petir dan gemuruh yang membuat Putri ketakutan. Mobil Hardi terjebak lumpur ketika ia mau mengantar Putri kerumah. Ia pun menelepon Joni agar bisa datang ke tempat mobil mereka terjebak. Putri meminta agar mereka keluar dari mobil dan berteduh disalah satu rumah yang dekat dari tempat mobil mereka.

Putri merasa ada yang aneh didalam mobil, karena itulah ia memaksa untuk keluar dari mobil. Mereka pun berteduh di salah satu rumah yang kelihatan begitu sudah tua. Hujan semakin deras, angin semakin kencang, Putri dan Hardi duduk didepan rumah yang kebetulan ada dua kursi yang tersedia. Karena takut dituduh berbuat zina, Hardi berniat meminta ijin untuk berteduh dirumah tersebut.

Hardi mengetuk pintu tiga kali namun tidak ada jawaban, kembali ia ketuk dan mengucapkan salam, namun tidak ada jawaban lagi. Hardi pun duduk kembali bersama Putri, mereka menunggu kedatangan Joni dan menunggu berhentinya hujan yang begitu deras. Joni meminjam kepada bos bengkel tempat ia bekerja, ia membawa teman kerjanya yang bernama Fatir. Joni menelepon Hardi dan menanyakan dimana sebenarnya tempat mobil mereka terjebak. Hardi menjelaskan bahwa tempat mobil mereka terjebak tepat berada di depan salah satu rumah yang kelihatan sudah tua arah kerumah Putri.

Didepan rumah, Hardi ingin mencium Putri dan mengungkapkan bahwa yang ia cintai hanyalah Putri. Hardi memegang tangan Putri dan memeluk Putri. Tiba-tiba terdengar suara teriakan perempuan dari dalam rumah yang membuat Putri terkejut dan melepaskan pelukkan Hardi. Mereka berdua memberanikan diri membuka pintu rumah dan masuk kedalam rumah tersebut. Dengan langkah yang perlahan, Hardi melihat kekiri kekanan namun suasana dirumah itu begitu gelap. Hardi menghidupkan korek yang ia bawa dan mereka masuk kedalam rumah tersebut.

Suara teriakkan itu berhenti seketika. Hardi kembali memeluk Putri dan mencium Putri. Tiba-tiba pintu tertutup dengan sendirinya, teriakkan perempuan terdengar kembali. Hardi melihat ada yang lewat dibelakang Putri, ia pun langsung melepaskan pelukkannya dan berusaha membuka pintu namun ketika ia membuka pintu, kaki Hardi tiba-tiba ditarik oleh sesosok perempuan dan Hardi terjatuh. Kepalanya terbentur dilantai dan kepalanya berdarah. Putri menangis ketakutan dan meminta tolong, Putri berusaha membuka pintu. Terdengar suara bunyi handphone Hardi, ternyata Joni yang menelepon Hardi. Putri meminta tolong kepada Joni bahwa mereka dalam keadaan darurat, Putri mengatakan bahwa mereka berada didalam rumah didekat mobil mereka terjebak. Joni dan temannya Fatir langsung berlari kearah rumah yang Putri maksud.

Putri berteriak kencang, meminta tolong dan berharap Joni bisa menyelamatkanya. Putri melihat kebelakang dan ia merasakan ada yang lewat didepannya. Suara teriakan kuntilanak membuat Putri gemetar, jantungnya berdetak kencang, ia menangis dan membangunkan Hardi. Joni dan Fatir berusaha membuka pintu, mereka mendengar suara teriakan Putri didalam rumah. Putri melihat sesosok perempuan beramput panjang yang berada tepat didepannya. Ia berlari kearah ruang tengah, tapi ia tak bisa Melihat apa-apa karena didalam rumah tersebut begitu gelap. Putri terdiam di ruang tengah rumah tersebut, tiba-tiba ada yang mencekik lehernya dan melemparkan Putri kearah tembok.

Pintu berhasil terbuka, Joni dan Fatir melihat Hardi sudah tergeletak dilantai, Joni juga melihat Putri sudah berlumur darah. Ternyata Hardi dan Putri tidak bernyawa lagi. Joni dan Fatir membawa mayat Hardi dan Putri, dan Fatir menelepon orang tua Hardi dan kakak Putri bahwa Hardi dan Putri telah meninggal dunia.

Siangnya, Jenajah Hardi dan Putri disemayamkan berdekatan. Keluarga Hardi sangat kehilangan Hardi, begitu juga dengan kakak Putri yang kehilangan adik tersayangnya.Joni dan Fatir meninggalkan tempat pemakaman dan mereka merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Hardi dan Putri.

“Bangkitnya 2 Kuburan”

Malam yang gelap, malam pertama meninggalnya Hardi dan kekasihnya Putri yang disemayamkan secara berdekatan. Di tempat kerja Joni, ia masih merasa kehilangan temannya dan rasa bersalah masih selalu terpikir di benaknya. Fatir menghibur Joni dan mengatakan bahwa mereka berdua tidak salah, tapi hanya terlambat menyelamatkan Hardi dan Putri. Fatir mengatakan bahwa itu adalah takdir mereka, mungkin hidup mereka memang sudah berakhir samapai waktu itu.

Joni masih saja dibayangi rasa bersalah dan mengajak Fatir ke kuburan Hardi dan Putri. Malam itu begitu gelap, tak ada bulan yang menerangi bahkan bintangpun tak menghiasi langit. Hembusan angin mengikuti perjalanan Joni dan Fatir ke tempat kuburan Hardi dan Putri. Sesampainya di kuburan, mereka dikejutkan oleh seorang penjaga kuburan. Penjaga kuburan itu bernama Pak Anton yang merupakan paman Irfan. Pak Anton melarang Fatir dan Joni masuk ketempat pemakaman, karena tidak diijinkan oleh warga, kecuali penjaga kuburan saja.

Namun Joni memaksa Pak Anton dengan alasan apa yang dia lakukan untuk kebaikkan. Ia ingin meminta maaf kepada temannya karena ia berfikir kematian Hardi dan Putri disebabkan oleh dia sendiri. Fatir mengatakan kalau mereka tidak usah masuk ke wilayah pemakaman, karena selain dilarang warga, tempat tersebut juga begitu menyeramkan. Akan tetapi Joni tetap memaksa untuk masuk ke wilayah pemakaman. Pak Anton pun memberi ijin kepada Joni asalkan mereka tidak berbuat apa-apa disana. Dengan terpaksa Fatir mengikuti Joni walaupun di bayangi rasa ketakutan.

Sesampainya di makam Hardi dan Putri, Joni langsung mengucapkan kata-kata maafnya. Ia menyesali karena ia tidak bisa menyelamatkan temannya sendiri. Fatir juga mengikuti atas apa yang diucapkan Joni, walaupun ia tidak focus dengan ucapannya karena ia sangat ketakutan, ia melihat kiri kanannya penuh dengan kuburan yang sangat menyeramkan. Saat mereka sudah selesai dan berpamitan pulang kepada Hardi dan Putri, tiba-tiba angin begitu kencang kea rah mereka dan terdengar suara aneh dari atas pohon didekat kuburan Hardi dan Putri. Fatir melihat kuburan Hardi dan Putri bergoyang dan tiba-tiba retak, sedangkan Joni tidak memperhatikan itu, Joni memanggil nama Pak Anton agar bisa menolong mereka.

Fatir sangat ketakutan dan berteriak minta tolong ketika kakinya di tarik dan mengakibatkan setengah badannya masuk kedalam kuburan. Joni terkejut melihat ini semua, ia menarik tangan Fatir dan terus meminta pertolongan. Pak Anton pun datang membantu Joni untuk menarik Fatir keluar dari dalam kuburan. Fatir sangat ketakutan dan terus mengucapkan kata-kata maafnya kepada Hardi dan Putri. Pak Anton dan Joni terus berusaha menarik keluar Fatir dari dalam kuburan. Joni berkata dalam hati bahwa ia benar-benar merasa bersalah dan meminta kepada Hardi dan Putri agar tidak menyiksa mereka.

Dengan perlahan setengah badan Fatir bisa keluar dari dalam kuburan. Joni terus mengucapkan permintaan maafnya, Akhirnya Fatirpun bisa keluar dari dalam kuburan. Fatir berterimakasih kepada Joni dan Pak Anton karena jika tidak ada mereka pasti ia sudah tidak bernyawa lagi. Pak Anton menyuruh Joni dan Fatir pergi meniggalkan pamakaman. Joni dan Fatir meminta maaf kepada Pak Joni karena mereka telah memaksa agar bisa masuk ke wilayah pemakaman. Joni dan Fatir pun pergi meninggalkan tempat tersebut.

“Misteri Pohon Tua”

Malam yang begitu menyeramkan bagi Fatir karena ia hampir mati, untunglah Pak Anton dan Joni menyelamatkan dia. Masih dalam perjalanan menuju tempat kerjanya mereka, Fatir kebelet buang air kecil,malam itu hujan turun begitu deras dan angin malam begitu kencang. Fatir pun berhenti di tengah jalan yang kiri kanannya tidak ada rumah, hanya pepohonan besar dan sudah tua. Joni melarang Fatir jangan keluar dari mobil dan jangan sembarangan buang air kecil. Tapi Fatir malah menertawakan Joni dan tetap keluar dan buang air kecil dibawah pohon tua. Fatir mengatakan bahwa persetan dengan pohon tua dan persetan dengan buang air kecil sembarangan.

Joni menunngu di dalam mobil, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara teriakkan Fatir. Ia langsung keluar dan berlari kearah Fatir, Joni melihat Fatir sudah tergeletak di bawah pohon tua. Hujan berhenti dan terdengar suara tangisan dari atas pohon. Di tengah jalan, Joni melihat ada mobil yang berhenti juga dan orangnya pun keluar dari dalam mobil. Orang tersebut langsung kearah pohon tua dan dengan cepat Joni melarang orang tersebut agar tidak membuang air kecil dibawah pohon tersebut.

Ketika Joni melihat orang tersebut ternyata ia mengenal orang itu, ia adalah Irfan. Joni langsung menceritakan atas apa yang dialami Fatir. Joni meminta pertolongan kepada irfan untuk membantu mengangkat Fatir kedalam mobil. Karena irfan pernah ditolong Joni, ia pun menolong Joni untuk mengangkat Fatir kedalam mobil. Namun saat mereka mengangkat Fatir, terjadi keanehan yang dimana mereka tidak bisa mengangkat Fatir, badan Fatir begitu berat. Irfan heran dan binggung mengapa badan Fatir seberat itu, begitu juga dengan Joni.

Joni dan Irfan terus berusaha mengangkat Fatir, namun empat kali mereka mencoba mengangkat Fatir, tidak pernah bisa, badan Fatir begitu berat. Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari atas pohon, Joni melarang Irfan melihat keatas pohon karena Joni tidak ingin Irfan melihat sesuatu yang aneh seperti yang ia lihat, Joni melihat sesosok kuntilanak yang tertawa melihat mereka. Joni dan Fatir kembali dikejutkan dengan terbengunnya Fatir, dan berteriak mengusir dan menyuruh Joni dan Irfan harus meninggalakan tempat itu. Tapi Joni tidak mau meninggalkan tempat itu tanpa membawa Fatir.

Fatir mencekik leher Irfan dan Joni melapaskan tangan Fatir. Irfan berlari kearah mobilnya dan mengajak Joni pergi meniggalkan tempat itu. Namun Joni tetap besikeras tidak mau meninggalkan Fatir sendirian ditempat itu. Fatir mangambil kayu didekatnya dan ingin memukul Joni. Irfan melihat itu dan menyuruh Joni lari meninggalkan Fatir. Joni dipukul Fatir yang menagikibatkan pundak Joni terluka dan berdarah. Irfan keluar dari mobil dan menarik Joni kearah mobilnya. Irfan dan Joni meninggalkan tempat itu.

Beberapa Menit kemudian, Irfan membawa Joni kerumah sakit untuk mengobati pundak Joni yang berdarah dan terluka, Untunglah Joni hanya mengalami luka ringan. Setelah diobati, Irfan membawa Joni kerumahnya dan menceritakan kejadian yang mereka alami kepada orangtuanya. Orangtua Joni menyuruh agar malam ini Joni jangan pulang dulu, Joni pun menginap dirumah Irfan.

“Cerita Masa Lalu”

15 April 2009, dirumah Irfan. Joni mencertiakan kepada Irfan bahwa waktu ia memegang tangan Fatir malam itu begitu dingin. Joni juga menceritakan mengapa Fatir mengami itu semua. Joni juga menceritakan atas keanehan yang pernah ia alami, mulai dari ia pertama kost sampai kejadian yang ia alami tadi malam. Irfan berinisiatif agar Joni menanyakan langsung kepada Ustad yang merupakan tetangga mereka sendiri, mengapa Joni selalu mengalami hal-hal yang aneh dan selalu ada korban yang merupakan semua temannya yang pernah dekat dengnnya.

Pagi itu orangtua Irfan sudah berangkat kerja, Irfan memanggil Ustad tersebut dan langsung bertatap muka dengan Joni. Sebelumnya Joni juga pernah bertemu dengan Ustad tersebut, diwaktu mereka menyelamatkan Irfan yang mengamuk didalam kamarnya, ustad itu bernama Rahman. Joni menceritakan semua atas apa yang pernah ia alami yang menurutnya aneh dan tidak wajar. Joni pernah mengalami hal yang aneh di kost pertmanya, ditempat kerjanya, di kampusnya, dirumah tua ,di rumah sakit, dikuburan, dan terakhir kali di pohon tua.

Setiap kejadian aneh itu selalu ada korban, dan korban itu semua adalah teman-teman Joni. Joni tidak mau kalau ada korban selanjutnya. Ustad Rahman menanyakan kepada Joni, apakah Joni memakai sebuah jimat atau tidak. Kemudian Joni mengaku memang ada jimat yang dipakainya. Jimat pemberian kakeknya yang kata orangtua Joni merupakan Jimat kekebalan dan selalu mejaga Joni dari bahaya.

Waktu Joni masih berusia 4 tahun, jimat itu sudah dipakaikan oleh kakeknya. Jimat yang merupakan jimat yang kata orangtua Joni jimat kekebalan. Setelah diterawang Ustad Rahman, ternyata jimat tersebut adalah jimat makhluk gaib, jimat yang merupakan jimat kematian. Siapa saja yang berteman dengan Joni pasti akan meninggal dengan cara yang tidak wajar. Dengan Jimat itu, dimana pun Joni berada pasti ada makhluk gaib yang mengikutinya. Jimat tersebut harus dilepaskan dari tubuh Joni dan harus dimusnahkan.

Untuk melepaskan Jimat tersebut, Joni harus mendatangi semua tempat dimana ia mengalami kejadian aneh tersebut dan tempat meninggal semua teman-temannya. Joni juga harus meminta maaf kepada semua teman-temannya. Ustad Rahman tidak bisa membantu melepaskan jimat Joni, karena syaratnya Joni harus mendatangi semua tempat kejadian dan meminta maaf kepada teman-temannya. Barlah dengan sendirinya Jimat terlapas dari tubuh Joni.

Joni sangat berterima kasih kepada Ustad Rahman. Joni mengajak Irfan untuk menemaninya pergi kesetiap tempat kejadian yang menurutnya aneh dan mengakibatkan kematian teman-temannya. Pagi itu juga, Joni berencana mengajak Irfan pergi ketempat kostan pertamanya saat ia masih bersama Andi. Dikamar 22 lah mereka mangalami kejadian aneh itu. Mereka pun pergi ketempat tersebut.

Membutuhkan waktu 5 jam untuk sampai ketempat itu. Irfan bertanya kepada Joni, mengapa harus ketempat kostannya pertamanya di datangi, bukankah di pohon tua lebih dekat dari tempat mereka. Joni menjelaskan kembali bahwa ia diberitahu terakhir kali oleh Ustad Rahman bahwa ia harus mendatangi tempat kejadian dengan cara yang berurutan. Agar jimatnya terlepas dengan sempurna dan tidak meninggalkan sedikitpun ilmu dari jimat itu. Joni dan Irfanpun melanjutkan perjalanan mereka.

“Hilangnya Penghuni Kamar 22”

15 April 2009, Joni dan Irfan sampai ke kota tempat Joni pernah kost yang merupakan milik Bu Ani. Joni menemui Bu Ani dan meminta maaf kepada Bu Ani karana waktu itu Joni dan Andi tidak sempat pamit pergi kepada Bu Ani. Joni juga menceritakan bahwa kedatangannya untuk menyelesaiakan masalah yang sedang ia alami. Bu Ani menanyakan kepada Joni kemana Andi sekarang, mengapa Joni tidak bersama Andi. Dengan hati yang sedih dan terharu, Joni menceritakan semua kejadian yang dialami Andi hingga akhirnya Andi meninggal dunia didalam sel penjara.

Bu Ani terharu mendengarkan cerita Joni yang kehilangan sahabat tebaiknya. Bu Ani juga meminta maaf kepada Joni karena ia tidak menceritakan sebelumnya kepada Joni dan Andi bahwa dikamar 22 memang sering terdengar suara-suara aneh sebelum kedatangan Joni dan Andi kekostan tersebut. Begitu juga sesudah Joni dan Andi pergi meninggalkan kostan itu. Bu Ani menceritakan, sebelum seminggu kedatangan Joni dan Andi tidak ada kejadian aneh didalam kamar 22. Namun seminggu sebelum kedatangan Joni dan Andi memang sering terdengar suara aneh dan sering ada jejak-jejak kaki yang ada didepan kamar 22.

Setelah kepergian Joni dan Andi dari kostan itu Bu Ani kembali menerima 3 orang mahasiswa yang ngekost di tempat kostan Bu Ani. Ketiga mahasiswa itu berasal dari daerah yang berbeda, mereka juga baru pertama ngekost dan jauh dari orangtua mereka. Ketika malam pertama mereka ngekost, Ketiga mengalami hal yang sama seperti yang dialami Joni dan Andi. Bukan hanya malam pertama, malam-malam selanjutnya mereka juga mengalami hal-hal yang aneh. Ketika itu salah satu dari mereka baru pulang dari kampus dan sesampainya di kostan ia melihat seseorang yang duduk di depan kostan mereka.

Selain itu Bu Ani juga mengalami hal yang sama, ia melihat ada seseorang yang duduk di depan kostan kamar 22. Karena penasaran, Bu Ani mendekati perempuan itu, dan ketika Bu Ani menanyakan apa yang sedang perempuan itu lakukan, perempuan itu hanya diam dan tidak berkata apa-apa. Bu Ani pun mengetuk kamar 22 dan ketiga mahasiswa yang ada di kamar 22 langsung keluar. Ketika Bu Ani menanyakan kepada ketiga mahasiswa itu siapa perempuan yang ada didepan kamar mereka, ketiga mahasiswa itu kembali bertanya kepada Bu Ani. Karena ketiga mahasiswa itu tidak melihat ada perempuan didepan kamar mereka. Bu Ani binggung dan meninggalkan kamar 22 tersebut.

Setelah menceritakan semua yang pernah ia alami, Bu Anipun membawa Joni dan Irfan kekamar 22. Joni melihat dengan mata kepalanya ada banyak penghuni didalam kamar tersebut. Joni memgang jimatnya dan dengan seketika penghuni itu menghilang dari kamar 22. Setelah selasai, Joni menceritakan kepada Bu Ani bahwa penghuni kamar 22 tidak ada lagi. Bu Ani sangat berterimakasih kepada Joni.

Setelah beberapa menit kemudian, Joni dan Irfan pamit pulang dan meninggalkan tempat tersebut. Selanjutnya Joni harus kembali ke kota tempat ia bekerja yaitu di bengkelnya, karena disanalah ia mengalami hal keanehan yang dimana ia dan Andi melihat sesesok perempuan yang membawa motor dan tiba-tiba menghilang. Joni dan Irfan pun langsung pulang ketempat kerja Joni dan berharap agar masalah ini cepat-cepat selesai.

“Hilangnya Penghuni Lantai 3”

16 April 2009, Joni dan Irfan datang kebengkel yang disitulah Joni dan Andi melihat sesosok perempuan. Joni melihat ada sesosok perempuan yang duduk di dekat motornya. Joni mendekati perempuan misterius itu dan memejamkan matanya sehingga perempuan misterius itu menghilang. Joni kemudian mengajak Irfan kekampusnya karena disanalah ia, Andi dan juga Andini mengalami hal yang aneh.

Joni dan Irfan pergi kekampus, mereka berdua bertemu dengan salah satu dosen. Joni menjelaskan tujuannya datang dikampus tersebut. Joni, Irfan dan dosen itu pun langsung naik kelantai 3. Setalah berada dilantai 3 Joni tidak melihat apa-apa didalam kelas, ia binggung apa yang ia harus lakukan. Namun Irfan melihat sesosok perempuan yang kepalanya berdarah dan menangis kesakitan yang ternyata perempuan itu adalah Andini kakak Irfan sendiri. Andini menjelaskan kepada adiknya bahwa untuk menghilangkan penghuni didalam kelas lantai 3, Joni harus mendatangi makam Andini dan datang ke makam Andi.

Irfan menceritakan apa yang disampaikan arwah kakaknya kepada Joni. Awalnya Joni tidak begitu percaya kepada Irfan namun setelah Joni kembali menanyakan kepada Ustad Rahman, Joni baru percaya bahwa ia memang harus datang kepemakaman Andini dan Andi. Karena Kebetulan makam Andi dan Andini satu lokasi, Joni dan Irfan datang ketempat itu. Malam, sekitar pukul setengah sebelas, Joni melihat arwah Andi dan Andini. Joni meminta maaf karena sebenarnya kematian mereka disebabkan olehnya.

Setelah Joni menyampaikan permintaan maafnya, Joni dan Irfan pergi meninggalkan tempat itu dan datang kekampus untuk melihat apakah dilantai 3 sudah tidak ada penghuni lagi atau masih ada penghuni. Sekitar pukul sebelas, Joni dan Irfan meminta ijin kepada satpam agar memperbolehkan mereka untuk melihat kelas yang ada dilantai 3. Joni dan Irfan naik ke lantai 3 setelah satpam kampus tersebut member ijin kepada Joni.

Ketika masuk kedalam kelas, Joni melihat Arwah Andini dan Penghuni kelas lantai 3. Joni memekamkan matanya dan berkata dalam hati agar arwah Anidini dan penghuni lainnya pergi meninggalkan kelas tersebut. Saat Joni membuka mata, arwah Andini dan Penghuni kelas menghilang. Irfan melihat Joni mengeluarkan air mata, Joni bersedih karena semua ini karena jimat yang dipakainya. Joni sangat menyesal dan merasa bersalah, ia dan Irfan pergi meninggalkan kelas tersebut dan turun kelantai 1. Joni harus mendatangi tempat ia dirawat disaat ia sakit karena cekikkan Andini di dalam kelas lantai 3.

Pukul 12 malam, Joni terlihat kelalahan karena sudah 2 hari ia bersama Irfan menyelsaikan masalah yang sedang dialami Joni. Namun karena Joni ingin cepat menyelesaikan masalah yang ia hadapi, Joni memaksakan diri untuk pergi kerumah sakit dan setelah itu mereka istirahat dan menyelesaikan masalah yang pernah Joni dan Andi alami disaat berada di kamar Irfan. Walaupun kelelahan, Irfan tetap ikhlas membantu Joni untuk menyelasaikan masalah ini, selain itu Irfan juga tidak ingin menjadi korban selanjutnya. Karena teman terakhir Joni adalah dia sendiri.

“Hilangnya Penghuni di Kamar Irfan”

17 April 2009, pukul setengah dua dini hari, Irfan dan Joni sampai dirumah sakit tempat Joni dirawat semasa ia jatuh sakit karena dicekik oleh Andini. Joni meminta ijin kepada salah satu perawat untuk masuk ke kamat tempat ia pernah dirawat. Saat Joni masuk kedalam kamar tersebut ternyata ada seorang kakek-kakek yang sedang dirawat. Bersama keluarganya, kakek-kekek terkejut atas kedatangan Joni dan Irfan, namun setelah Joni Menjelaskan kepada keluarga kakek-kakek tersebut barulah mereka mengerti.

Ternyata, keluarga kakek-kakek tersebut juga sering mengalami keanehan didalam kamar tersebut. Keluarga kakek tersebut menceritakan bahwa pada saat itu ia sedang berada didalam kamar mandi. Saat ia mau keluar, ia mendengar suara teriakan dan tangisan yang sangat menyeramkan. Ia keluar dari kamar mandi, namun saat keluar, tiba-tiba pintu tertutup dengan sendirinya. Ia meminta tolong, untung pada malam itu ada saudaranya yang kebetulan juga menginap dirumah sakit itu menemaninya.

Setelah selesai bercerita tentang apa yang ia alami, Keluarga kakek itu pun menanyakan apa pernah Joni alami di rumah sakit tersebut hingga ia harus datang untuk menyelesaikan masalah yang belum di mengerti oleh keluarga kakek tersebut. Joni menceritakan bahwa ia memakai jimat misterius pemberian kakeknya dan siapa saja yang berteman dengan dia pasti akan mati. Joni juga menceritakan kepada keluarga kakek tersebut bahwa ia pernah dirawat di rumah sakit itu dan ada seorang temannya yang menemani ia di kamar yang di tempati kakek tersebut. Mulai dari itulah mereka mengalami hal-hal yang aneh.

Setelah beberapa menit kemudian, setelah Joni menceritakan semua apa yang pernah ia alami, Joni pun langsung memejamkan matanya dan membuka kembali matanya, ia melihat banyak penghuni didalam kamar tesebut. Ketika Joni kembali memejamkan matanya dan kembali membuka matanya, semua yang ia lihat saat pertama kini telah menghilang. Joni juga meminta maaf kepada keluarga kekek tersebut. Setelah itu Joni pergi meniggalkan rumah sakit tersebut dan langsung pulang ke rumah Irfan. Namun sebelumnya mereka menyempatkan untuk datang kuburan Hardi dan Putri untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan bahwa kematian Hardi dan Putri sebenarnya semua karena Joni. Setelah itu, Mereka langsung pulang dan terakhir kali Joni dan Irfan menyelesaikan masalah disaat Joni dan Hardi ada didalam kamar Irfan.

Setalah Joni dan Irfan berada dalam kamar, Joni memejamkan matanya lalu membuka matanya kembali, ia melihat banyak penghuni didalam kamar tersebut. Kemudian Joni kembali memejamkan mata dan membuka matanya kembali, semua penghuni didalam kamar Irfan menghilang. Joni dan Irfan sangat kelelahan dan beristirahat karena besok mereka melanjutkan untuk menyelesaikan semua masalah. Joni berharap agar ini semua cepat berakhir.

“Nyawa yang Terancam”

17 April 2009, Paginya sekitar pukul 8 pagi, Joni dan Irfan kembali meneruskan perjanan mereka. Kali ini Joni berencana mendatangi rumah tua tempat dimana Hardi dan Putri meninggal karena dibunuh oleh penghuni rumah tua tersebut. Irfan menanyakan siapakah Putri itu, Joni menjelaskan kepada Irfan bahwa Putri adalah temannya yang juga merupakan kekasih Hardi. Irfan seperti pernah mendengar nama Putri, ia mengingat waktu kakaknya Andini membawa temannya ke rumah mereka. Kakaknya sempat mengenalkan Putri kepadanya, namun hanya sekedar kenal dan setelah itu Irfan tidak pernah melihat mendengar lagi yang namanya Putri.

Irfan juga menanyakan apa yang menyebabkan mereka meninggal dan mengapa mereka meninggal didalam rumah tua tersebut. Joni menjelaskan lagi bahwa ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya yang dialami Hardi dan Putri, namun setahu Joni kepergian Hardi dan Putri sebenarnya disebabkan oleh Joni sendiri. Joni merasa karena ia memakai jimat itu, dan karena itulah Hardi dan Putri pergi untuk selamanya.

Setelah sampai kerumah tua, Joni membuka pintu rumah tua itu dan didalamnya ada seorang anak kecil yang sedang menertawakan mereka. Joni mengusir anak itu, dan menyuruh Irfan menutup pintu rumah tua itu. Irfan merasakan ada yang aneh didalam rumah itu, ia melihat ada sesosok perempuan didekat lemari yang ada didalam rumah tua itu. Irfan mendekati sesosok perempuan itu dan tiba-tiba kaki Irfan seperti ada yang memegang. Joni melihat Irfan ketakutan, Joni langsung memejamkan mata dan melihat dibawah kaki Irfan ada sesosok kuntilanak yang memegang kaki Irfan.

Irfan terjatuh dan di seret kuntilanak tersebut, Irfan meminta tolong agar Joni bisa menyelesaikan semua masalah ini. Joni memejamkan matanya lagi dan ketika ia membuka mata, semua penghuni didalam rumah tua menghilang dan Irfan pingsan tak sadarkan diri. Joni berusaha membangunkan Irfan dan keluar dari rumah tua itu. Joni akhirnya menangkat Irfan kedalam mobil dan membawanya pulang kerumah. Sesampainya dirumah, Ibu Irfan terkejut melihat anaknya terluka dan tak sadarkan diri. Ibu Irfan langsung menyuruh Suaminya agar langsung pulang dan dengan sangat panik Ibu Irfan menelepon Dokter pribadi mereka.

Joni sangat takut, jika Irfan juga akan pergi untuk selamanya. Joni keluar dari rumah dan pergi kerumah Ustad Rahman dan menanyakan kepada Ustad Rahman mengapa Irfan harus mengalami itu semua. Ustad Rahman pun menjelaskan bahwa Joni harus menyelesaikan semuanya sebelum terlambat. Karena jika tidak, Irfan akan menjadi korban selanjutnya. Joni pun langsung pergi terburu-buru meninggalkan Ustad Rahman dan pergi ketempat dimana Fatir meninggal yaitu di bawah pohon tua. Membutuhkan 1 jam untuk pergi ketempat tersebut, Joni mendapat kabar bahwa Irfan tidak sadarkan diri dan mengamuk didalam kamar. Joni semakin menancap gasnya dengan sangat kencang karena ia tidak ingin Irfan menjadi korban selanjutnya.

Sesampainya di Pohon tua, Joni memejamkan matanya dan membukanya kembali, ia melihat banyak penghuni pohon tua tersebut. Ia melihat ada sesosok Kuntilanak, Gundoruwo, tuyul dan pocong yang berada di sekitar pohon tua itu. Lalu Joni memejamkan matanya kembali dan mengucapkan kata-kata maaf bahwa kematian Fatir adalah ia yang menyebabkan, mengakui kesalahannya dan ia membuka kembali matanya, penghuni Pohon tua itu menghilang. Joni kembali lagi ke rumah Irfan dan melihat Irfan masih tidak sadarkan diri. Joni kembali menanyakan kepada Ustad Rahman mengapa Irfan juga tidak sadarkan diri. Ustad Rahman hanya mengatakan bahwa ada satu tempat lagi yang harus didatangi Joni dan Ustad Rahman tidak mengetahui tempat yang harus didatangi Joni.

Joni mengingat bahwa salah satu tempat yang menurutnya aneh dan mengakibatkan Andi meninggal, tempat itu adalah sebuah penjara yang misterius. Didalam sel, Andi meninggal dan sebelumnya ia mengalami keanehan. Joni pun mendatangi tempat itu, dan melihat didalam sel banyak penghuni yang sangat menyeramkan. Joni memejamkan matanya dan meminta maaf kepada Andi dan mengakui kesalahannya. Joni berhasil Mengusir penghuni yang ada didalam sel tersebut. Joni berharap dengan berakhirnya ini semua maka tidak ada korban lagi dan tidak ada lagi hal-hal yang aneh dialaminya. Joni melihat jimatnya dengan sendiri terlepas dari pinggangnya, ia meninggalkan tempat itu dan kembali kerumah Irfan.

Dalam perjalanan ia melihat seorang anak kecil melambaikan tangannya dan tersenyum kepada Joni dan tiba-tiba anak kecil itu menghilang. Joni terus melanjutkan perjalanannya. Tidak lama kemudian, Joni sampai kerumah Irfan. Joni berharap Irfan selamat dan dengan terlepasnya jimat dari tubuhnya maka semuanya berakhir.

“Berakhir dengan Kepedihan”

Hari yang tak mungkin pernah dilupakan Joni, mungkin kesalahannya akan selalu membayangi hari-harinya, karena pada saat ia masuk kerumah Irfan, ia melihat sudah banyak orang dan orangtua Irfan menangis. Joni melihat Irfan sudah tak berdaya dan tidak pernah disangka oleh Joni jika Irfan harus menjadi korban jimatnya. Ia sangat menyesal dan sangat bersedih, menyesali semua kesalahannya walaupun pada dasarnya kelasahan itu disebabkan oleh kakeknya. Joni meneteskan air matanya dan memeluk jenajah Irfan.

Orangtua Irfan sangat kehilangan Irfan karena mereka juga telah kehilangan anak mereka yang bernama Andini. Joni semakin bersedih melihat orangtua Irfan tidak mau melepaskan pelukkan dari jenajah Irfan. Ibu Irfan jatuh pingsan saat Jenajah Irfan di semayamkan dan Ayah Irfan tidak sanggup melihat proses pemakaman. Irfan pergi meninggalkan tempat pemakaman Irfan, ia sangt bersedih,menyesali dan sangat merasa bersalah. Ia pergi kesuatu tempat untuk menenangkan diri.

Joni pergi ke tebing yang sangat tinggi dan dibawahnya laut yang begitu dalam. Joni teriak dengan sangat kencang mengapa ini semua harus ia yang mengalami. Joni mengingat kenangan yang indah saat ia bersama teman-temannya. Saat ia bersama Andi, Hardi, Andini, Putri, Fatir dan Irfan. Banyak kenangan yang tidak mungkin pernah dilupakan Joni, selalu dikenang oleh Joni. Ia merasa sangat jahat dan tidak pantas hidup didunia.

Joni dikejutkan dengan kedatangan seorang anak kecil yang memintanya agar dia tetap bertahan dan tetap menjalani hari-harinya. Joni tidak memperdulikan itu semua, Joni pun meloncat dari atas tebing. Kepalanya terbentur batu yang begitu besar, dan hidup Joni berakhir dengan kepedihan. Ia Bunuh diri karena merasa bersalah dan tak pantas hidup didunia. Ia memejamkan matanya dan mengingat semua kenangan indah saat ia bersama teman-temannya. Ia mengucapkan terakhir kali kata maaf kepada temannya dan ia pun memjamkan matanya untuk selamanya.

TAMAT

27 Oktober 2012, 02:24, Pondok Cabe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s