Cerita Pendek “Rahasia Rumah Tua”

“Rahasia Rumah Tua”

“Terjebak di Rumah Tua”

  Putri adalah seorang wanita yang baik hati, ia berusia 22 tahun. Putri sudah lama ditinggal oleh kedua orangtuanya. Putri tinggal bersama neneknya dan adiknya yang bernama Juni. Juni masih berusia 5 tahun. Putri bekerja untuk neneknya dan menyekolahkan adiknya, Putri bekerja di sebuah restoran yang cukup terkenal. Putri sudah 2 tahun bekerja direstoran itu. Banyak suka dan duka ia lalui bersama sahabatnya yang bernama Ranti. Putri sudah lama bersahabat dengan Ranti, sejak putri masih duduk dibangku sekolah kelas 2 SMA.

            Putri juga memiliki seorang kekasih yang bernama Fadli. Fadli sangat menyayangi Putri, begitu juga dengan Putri. Setahun sebelumnya Putri pernah menjalin hubungan dengan seorang pria yang kaya, namun hubungan mereka berhenti ditengah jalan karena Putri diduakan oleh kekasihnya dulu .


Suatu malam disaat Putri dan Ranti sudah selesai bekerja, mereka bersiap-siap untuk pulang. Rencananya mereka mampir kerumah temannya Ranti. Rumah temannya Ranti lumayan jauh dari rumah Ranti dan Putri, bukan hanya jauh rumah temannya Ranti juga terletak di suatu gang yang dikelilingi dengan pepohonan yang besar  dengan suasana pedesaan. Dengan rasa yang gembira, Ranti berharap bisa bertemu dengan teman lamanya itu. Namun, ditengah perjalanan menuju rumah temannya Ranti, dengan suasana gelapnya jalan, pohon-pohon yang rindang dan angin malam yang sangat dingin, membuat Putri dan Ranti ketakutan. Akan tetapi mereka tetap harus melanjutkan perjalanan, karena kalaupun mereka pulang perjalanan yang mereka lalui sudah begitu jauh dan sudah mendekati rumah temannya Ranti.

Tiba-taba langkah Ranti terhenti saat mendengar suara aneh dan menyeramkan dari atas pohon. Putri sangat ketakutan, dengan keringat dinginnya dan menahan nafas sejenak, suara aneh itu Terasa semakin mendekati mereka, Ranti berteriak ketakutan, namun ia tidak bias melangkahkan kakinya seakan-akan ada yang menahan kakinya unutk melangkah. Putri pingsan, terjatuh dan terbaring didekat Ranti, Putri tak sadarkan diri. Ranti terkejut dengan datangnya seorang anak kecil yang membawa lilin dan anak kecil itu memberi  tahu bahwa tempat itu adalah tempat kematian.

Ranti semakin ketakutan, ia pun mendekati anak kecil , tapi saat Ranti ingin mengucapkan sesuatu, anak kecil itu menghilang dengan seketika. Ranti menjerit dengan sangat kencang, namun tidak ada yang mendengar suara jeritan Ranti. Tiba-tiba handphone Putri bergetar, denga penuh semangat Ranti mangangkat handphone Putri. Ternya Fadli yang menelepon. Ranti menceritakan semua hal ini kepada Fadli. Dengan cepat Fadli dan temannya Aldo menuju tempat Ranti dan Putri tersesat.

Putri sadarkan diri,ia pun langsung menarik tangannya Ranti dan mereka lari meninggalkan tempat itu. Putri dan Ranti masuk kedalam sebuah rumah tua yang ksong dan tidak berpenghuni lagi, mereka sangat ketakutan. Hujan deras , diiringi dengan Angin kencang. Fadli dan Aldo sudah menuju ke tempat Putrid an Ranti tersesat. Sambil teriak memanggil nama Putrid an RAnti, Fandli dan Aldo dikejutkan dengan penampakan sesosok kuntilanak yang sangat menyeramkan. Aldo sangat ketakutan dan tanpa sadar Aldo lari meninggalkan Fadli. Aldo melihat sebuah rumah tua dan tanpa berfikir panjang, Aldo masuk kedalam rumah tua tersebut.

Di ruang depan rumah tua itu, Aldo bertemu dengan Putri dan Ranti. Dengan senter yang dibawa Aldo, mereka bertiga berfikir untuk keluar dari rumah tua itu, karena mereka berfikir rumah tua itu adalah rumah yang menyeramkan. Mereka mencari jalan keluar, namun semua pintu terkunci dan tidak ada jalan keluar. Mereka terjebak didalam rumah tua itu, Putrid an Ranti sangat ketakutan saat suara aneh terdengar lagi. Mereka bertiga terus mencari jalan keluar.

Diluar Rumah tua itu, Fadli melanjutkan perjalanan untuk mencari Putrid an Ranti. Di bawah pohon bamboo didekat rerumputan, Fadli menemukan Hanphone yang ternyata adalah milik Putri. Fadli mengikuti jejak kaki Putrid an Ranti, dan tidak lama Fadli menemukan sebuah rumah tua. Awalnya ia curiga bahwa rumah ini adalah rumah yang menyeramkan, Fadli sempat berfikir untuk tidak masuk kedalam rumah tua itu. Namun, Fadli menemukan Gelang pemberianya kepada Putri terjatuh di dekat pintu rumah tua itu, Fadli pun berubah pikiran, ia masuk ke dalam rumah itu dan berharap bias menemukan Putrid an Ranti.

Rumah tua itu begitu gelap, untunglah Fadli membawa sebuah senter. Fadli terus mencari dan berharap tidak terjadi apa-apa dengan Putri dan Ranti. Di ruang  tengah Aldo, Putri dan Ranti melihat sesuatu yang aneh, patung yang mirip seorang kakek-kakek yang memiliki mata yang menyeramkan. Saat Putri mendekati patung tersebut, terdengar suara tangisan anak kecil. Dengan tiba-tiba patung yang tadinya ada di depan Putri menghilang. Saat Ranti dan Aldo melihat kebelakang Putri tidak ada lagi bersama mereka. Aldo panic dan mencari Putri. Ranti menangis, namun Aldo member semangat untuk mencari Putrid an keluar dari rumah tua tersebut.

Di ruang depan, Fadli melihat sesosok anak kecil yang tersenyum melihat dia, dengan muka yang pucat dan mata yang merah. Namun Aldo tidak menghiraukan itu, ia tetap berjalan dan berharap bisa menemukan Putri dan Ranti. Saat Fadli berada di ruang tengah, ia di kejutkan karena melihat Putri terbaring di lantai dengan tubuh yang dingin dan muka pucat, Putri tidak sadarkan diri, ia Pingsan.

Fadli mengangkat Putri dan membawanya ke ruang depan, ia ingin mencari jalan keluar. Sambil berteriak memanggil nama Ranti. Di ruang belakang Aldo dan Ranti merasakan sesuatu yang aneh, Saat Aldo mengarahkan senternya ke sudut dinding rumah tua itu, Aldo dan Ranti melihat penampakan wanita yang bermuka rata dan tangannya bunting. Dengan muka yang sangat menyeramkan dan memakai baju putih dengan rambut panjangnya membuat Aldo dan Ranti lari ketakutan dan meninggalkan senter di ruan g belakang rumah tua itu. Aldo dan Ranti menuju ruang depan, Ranti sangat ketakutan begitu juga dengan Aldo. Mereka berdua terus mencari jalan keluar dan mencari pertolongan.

Di ruang depan Aldo dan Ranti bertemu dengan Fadli dan Putri. Mereka berempat mencari jalan keluar , namun tidak adal pintu dan jendela yang bias di buka oleh Aldo dan Fadli. Tiba-tiba Senter yang di pegang Fadli mati. Ruangan itu semakin gelap dan semakin banyak terdengar suara-suara yang aneh dan menyeramkan.

Putri sadar, Ia bangun dan langsung memeluk Fadli. Putri menangis ketakutan. Tiba-tiba hujan berhenti dan anginkencang tidak ada lagi. Dengan sangat terkejut Mereka berempat melihat pintu dengan sendirinya terbuka dan senter yang di pegang Fadli dengan sendirinya bisa hidup lagi. Mereka berempatpun keluar dari rumah tua itu, ditengah perjalanan mereka didatangi oleh seorang anak kecil yang membawa lilin dan anak kecil itu berkata “Kalian tidak bersalah” dan anak kecil itu pun menghilang.

Sehari kemudian, Putri menceritakan kejadian pada malam itu kepada neneknya. Namun nenenknya tidak terkejut mendengar cerita dari cucunya itu. Karena neneknya mengetahui bagaimana cerita yang sebenarnya dan apa yang telah terjadi di rumah tua itu. Nenek Putripun menceritaka tentang rahasia rumah tua itu kepada Putri.

Kisah di rumah tua itu berawal dari sorang Ibu yang bernama Ani yang memiliki suami yang bernama Sulaiman dan mereka tinggal bersama adik perempuan dari Ani yang bernama Siti. Pada saat itu, Ani tengah hamil muda. Ani pergi kerumah temannya untuk mengikuti arisan. Ani pulang ke rumah sekitar pukul 23.00 Malam. Tapi ternyata disaat Ani berada di rumah temannya, terjadi sesuatu di rumahnya. Dua perampok masuk kedalam rumah dan karena tidak ingin ketahuan jejak mereka, perampok itu membunuh Sulaiman dengan cara yang sangat sadis. Begitu juga dengan Siti, adik perempuan dari Ani. Siti dibunuh dengan sangat sadis, tangannya di potong oleh dedua perampok itu dan wajah Siti ditusuk dengan pisau tajam.

Kejadian itu begitu cepat, semua barang mereka hilang dan di rampas oleh perampok itu. Ketika Ani itu datang , ia pun dikejutkan dengan mayat suaminya dan adik perempuannya. Ia sangat terpukul atas kejadian itu. Ani kehilangan semuanya. Ani meninggalkan rumah itu, ia pergi jauh dari tempat itu. Dan sekarang Ani sudah tua dan tinggal bersama kedua cucunya. Ani adalah nenek Putri yang sekarang. Karena itulah nenek Putri mengetahui cerita tentang rumah tua itu. Putri terhatu dan menangis mendengar cerita neneknya, ia memeluk neneknya. 

Cerpen ini hanya karangan. Cerpen ini saya buat pada tanggal 13 Juni 2012 pada pukul 23:17 malam dan saya ketik pada tanggal 14 Juni 2012 pada pukul 12:08 di Kostan MAIB.

“Terungkapnya Rahasia Rumah Tua”

            Setelah mendengar semua cerita dari neneknya, Putri mempunyai rencana untuk mengungkap rahasia rumah tua, siapa pelakunya yang sebenarnya. Putri sangat berharap agar siapa pun pelakunya tersebut terungkap, karena Putri tidak ingin arwah kakeknya dan adik neneknya tidak bergentayangan lagi, tenang dialam sana. Bersama Fadli, putri  mendatangi rumah tua itu.

            Malam Jumat Kliwo, cuaca pada malam itu begitu cerah, tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan dan tidak ada sesuatu yang aneh didalam rumah tua itu. Ketika Putrid an fadli berada di rumah tua itu dan masuk ke ruang tengah, mereka tidak melihat apapun dan tidak merasakan keanehan di dalam rumah itu.

            Sudah satu jam mereka berada di dalam rumah itu, namun apa yang mereka inginkan tidak terjadi. Kejadian yang pernah mereka rasakan dahulu tidak terjadi lagi saat mereka ada di rumah tua itu lagi. Fadli meminta kepada Putri agar mereka cepat-cepat keluat dari rumah tua itu, karena percuma saja mereka ada didalam rumah tua itu kalau tidak ada tanda-tanda yang bias mengungkap rahasia dirumah tua itu. Putri pun memutuskan untuk keluar dari rumah tua itu.

            Putri dan Fadli keluar dari rumah itu, namun disaat mereka membuka pintu untuk keluar, mereka mendengar suara jeritan dari ruang tengah. Mereka terkejut dan langsung berlari mengejar dimana sumber suara itu berada. Fadli terpaksa mengikuti Putri, Saat mereka berada di ruang tengah, tiba-tiba ada seorang lelaki yang duduk di kursi goyang dan seorang wanita berdiri di dekat lelaki tersebut. Dengan keberanian Putri, ia menghampiri Lelaki itu dan menanyakan tentang siapa yang sebenarnya dibalik peristiwa rumah tua itu. Putri sangat berharap bias mendapat jawaban dari lelaki itu. Tiba-tiba, Lelaki itu menjawab dan menjelaskan bahwa pembunuhan yang pernah terjadi di rumah itu memang sudah di rencanakan, ada dua pelaku yang merupakan teman Kakek Putri sendiri.

            Dahulu, Sulaiman begitulah panggilan kakek Putri itu. Ia dan kedua temannya mengalami pertengkaran yang hebat. Pertengkaran terjadi karena masalah kecil, yaitu masalah gaji yang diterima oleh Sulaiman lebih besar daripada kedua temannya. Sebenarnya ini wajar saja, karena Sulaiman pekerjaannya lebih berat dibandingkan dengan kedua temannya, akan tetapi temannya kurang puas dan iri hati kepada Sulaiman. Sehingga timbul lah permusuhan diantara mereka.

            Ternyata timbul dendam diantara mereka, kedua teman Sulaiman menyusun rencana untuk membunuh Sulaiman dan keluarganya. Pada Sabtu malam terjadilah pembunuhan itu. Sulaiman dan adik perempuan dari Isterinya meninggal didalam rumah mereka sendiri. Isteri Sulaiman yang merupakan nenek Putri selamat karena pada waktu kejadian ia tidak ada di rumah tersebut.

            Putri dan Fadli sangat serius mendengarkan kisah yang diceritakan lelaki itu. Lelaki itu meneruskan ceritanya dan mejelaskan bahwa orang yang telah membunuhnya dan keluarganya sekarang masih hidup. Lelaki itu berpesan kepada Putri dan Fadli agar kedua pembunuh itu harus minta maaf kepada Sulaiman dan keluarga Sulaiman yang masih hidup. Fadli semakin penasaran dan ia menanyakan bagaimana bias mereka mengetahui siapa pembunuh yang sebenarnya dan dimana pembunuh itu sekarang tinggal. Lelaki itu memberi tahu tempat dimana Pembunuh itu berada.

            Dirumah Ranti, Ia dan pacarna duduk di teras rumah depan. Sedangkan Kakek Ranti yang bernama Hardi sudah tertidur dikamar. Kedua orang tua Ranti sedang keluar kota. Didalam kamar Hardi mendengar suara aneh didalam kamar mandi, seperti ada suara tangisan perempuan yang sangat menyeramkan. Hardi pun penasaran dan pergi kekamar mandi itu, saat Hardi membuka pintu kamar mandi suara aneh itu hilang seketika. Hardi memeriksa sampai kedalam kamar toilet, namun tidak ada apa-apa. Tiba-tiba pintu kamar mandi tertutup dan suara aneh itu kembali terdengar. Hardi berusaha membuka pinti namun pintu tersebut terkunci. Suasana didalam kamar mandi itu semakin menyeramkan saat lampu kamar mandi padam.

            Hardi minta tolong, ia mulai ketakutan. Suara Hardi terdengar sampai keluar, Ranti dan pacarnya yang bernama Jefri langsung masuk kedalam rumah dan berusaha mendobrak pintu kamar mandi. Hardi terus teriak dan semakin ketakutan, Hardi mendengar bisikan suara laki-laki. Ia mendengar bahwa ia harus meminta maaf kepada seseorang jika ia ingin hidupnya didunia ini tenang, setelah itu suara aneh itu secara tiba-tiba hilang. Suasana semakin aneh, Kaki Hardi terasa dingin, ia melihat kakinya dan ternyata ada sepotong tangan yang menarik kaiknya ke dalam toilet. Hardi berteriak kencang dan sangat ketakutan.

            Pintu kamar mandi pun berhasil didobrak oleh Jefri dan Ranti, lampu didalam kamar mandi itu tiba-tiba hidup kembali. Ranti dana Jefri mengangkat Hardi dan membawa ke dalam kamarnya. Ranti masih tidak percaya atas apa yang terjadi pada kakeknya. Apakah terjadi sesuatu yang aneh didalam kamar mandi atau hanya terpeleset di kamar mandi, Ranti bertanya-tanya. Hardi menceritkan semua kejadian disaat dia ada dikamar mandi itu, sedang asyiknya Ranti dan Jefri mendengarkan cerita Kakeknya terdengar suara ketukkan pintu. Ranti langsung berlari dan membuka pintu, ternyata Putri dan Fadli yang bertamu kerumahnya.

            Putri heran dan terkejut saat Ranti membuka pintu, Putri langsung bertanya kepada Ranti, kenapa Ranti ada didalam rumah itu. Ranti menjelaskan bahwa ia sekarang ada di rumah kakeknya. “Apakah nama kakekmu Hardi?” Putri langsung menanyakan hal itu kepada RAnti. Ternyata Hardi adalah salah satu pembunuh Sulaiman dan keluarganya. Putrid an Fadli menceritakan semuanya kepada Ranti, Jefri dan kakeknya Ranti. Ranti sangat kecewa kepada Kakeknya. Hardi mengakui semuanya, bahwa memang benar dialah yang membunuh Sulaiman dan keluarga Sulaiman. Teman Hardi yaitu Joko yang sudah lama meninggal dunia. Hardi sangat merasa bersalah, ia menyesali semua atas apa yang telah ia lakukan kepada Sulaiman dan Adik Isteri Sulaiman.

            Hardi datang kerumah tua itu, ia meminta maaf kepada arwah Sulaiman dan adik perempuan Isteri Sulaiman. Dengan rasa sesal, Hardi meminta maaf dengan setulus hati, ia rela mendapat hukuman apa saja walaupun nyawanya sekalipun. Namun arwah Sulaiman tidak membalaskan dendamnya kepada Hardi. Sekitar sejam kemudian Hardi menemui Isteri Selaiman, Bu Ani yang merupakan nenek Putri. Hardi meminta maaf kepada nenek Putri, namun nenek Putri tidak memaafkan Hardi, ia ingin Hardi merasakan penderitaan yang selamanya ini dirasakan oleh nenek Putri selama ia ditinggal oleh keluarganya. Nenek Putri menangis dan sangat bersedih, ia berharap ada hukuman yang setimpal kepada Hardi.

            Sehari kemudian, dirumah Ranti dan didalam kamar, Ranti melihat kakeknya sudah terbaring kaku dengan busa yang keluar dari mulut kakeknya serta muka dan badannya pucat. Ternyata Hardi sudah meninggal dunia, Ranti memberi tahu kepada kedua orang tuanya yang ada diluar kota. Ranti juga memberi kabar kepada Putri  dan keluarga Putri bahwa kakeknya sudah meninggal dunia.

            Di pemakaman, Nenek Putri akhirnya memaafkan Hardi. Nenek Putri langsung pulang dan mengajak Putri pergi dari tempat itu. Ayah dan Ibu Ranti sangat berduka, Ibu Ranti sangat besedih kehilangan ayahnya, begitu juga dengan Ranti. Sebulan setelah kejadian itu, tidak ada kejadian yang aneh lagi yang tejadi di rumah tua itu. Rumah tua itu sudah seperti rumah yang biasa. Arwah yang gentayangan di rumah tua itu tidak ada lagi. Putri, adiknya Juni dan neneknya kembali beraktivitas seperti biasanya. Putri dan Ranti kembali bekerja seperti biasa, begitu juga dengan Fadli dan Aldo yang bekerja di bengkel Ayah Aldo.

Sambungan Cerpen ini hanya karangan. Cerpen ini saya buat pada tanggal 16 Juni 2012 pada pukul 22:20 malam dan saya ketik pada tanggal 24 Juni 2012 pada pukul 14:54 di Kostan MAIB.

 

Karya : Haidi D’Glow 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: